anggrainilestari

a common girl who endeavor to be outstanding woman

  • 22nd April
    2012
  • 22
…Sementara itu Jayengsari dan Ki Buyut Sudarga naik ke puncak gunung dan tampak olehnya gunung Brama yang disebut juga lautan pasir. Seluruh dasarnya memang terdiri dari pasir tertutup abu yang keluar dari gunung Brama. Oleh karena itu seluruhnya kelihatan putih metah. Bersih tidak ada rumput dan kerokot atau semak yang dapat tumbuh di sana. Sewaktu gunung mengeluarkan api menjulang, padang pasir itu kelihatn putih sama sekali karena amat tebal pasirnya. Ditimpa sinar matahari bertambah putih mengilau. Gelombang-gelombang udara yang tampak diatas pasir bagaikan gelombang samudera. Orang tidak akan menyangka, bahwa yang kelihatan itu bukan air laut, bahkan mengira yang terbentang luas itu benar-benar lautan di atas gunung. (Serat Centhini, 1814)

#Voluntourism Bromo : The Eyeshot ( 29 Dec ‘11 - 1 Jan ‘12)

…Sementara itu Jayengsari dan Ki Buyut Sudarga naik ke puncak gunung dan tampak olehnya gunung Brama yang disebut juga lautan pasir. Seluruh dasarnya memang terdiri dari pasir tertutup abu yang keluar dari gunung Brama. Oleh karena itu seluruhnya kelihatan putih metah. Bersih tidak ada rumput dan kerokot atau semak yang dapat tumbuh di sana. Sewaktu gunung mengeluarkan api menjulang, padang pasir itu kelihatn putih sama sekali karena amat tebal pasirnya. Ditimpa sinar matahari bertambah putih mengilau. Gelombang-gelombang udara yang tampak diatas pasir bagaikan gelombang samudera. Orang tidak akan menyangka, bahwa yang kelihatan itu bukan air laut, bahkan mengira yang terbentang luas itu benar-benar lautan di atas gunung. (Serat Centhini, 1814)

#Voluntourism Bromo : The Eyeshot ( 29 Dec ‘11 - 1 Jan ‘12)

  • 15th April
    2012
  • 15

bookformountain:

(3) testimonial voluntourism #1

Woo this post remind me the incredible moment voluntourism #1 Bromo. Thanks for give me a chance, BFM..

Pada akhirnya,

saya yang lebih banyak mendapat pelajaran hidup,

dari anak-anak,

dan mayarakat Ngadirejo.

  • 20th January
    2012
  • 20

2011 Dalam 1 Kata

Holla.. How’s your day? Oh it feel like very long time I didn’t post on my tumblr.

And this is the first post in 2012. Happy New yeaaar people..

*Uh, basi nya*

Apa satu kata yang menggambarkan kehidupan kamu di tahun 2011?

Kira-kira begitulah pertanyaan yang saya ajukan ke beberapa teman akhir taun 2011 kemarin.

Jawabannya macem-macem. Ada yang bilang “Turning Point” (ini 2 kata by the way), ada yang bilang “Sadar” (Alhamdulillah ), ada yang bilang “Berwarna” (so does my life :)), ada yang bilang “Meriah” (Wew, did you get party along the year huh?).

kalau buat saya sendiri, 1 kata yang menggambarkan tahun 2011 ituuu…

adalaaahh..

adalaaah..

Read More

  • 27th December
    2011
  • 27
  • 16th December
    2011
  • 16

Raden Dewi Sartika

Bagaimana caranya agar bangsa kita bertambah maju? Hal itu oleh para pembesar sudah dipikirkan, yaitu kaum wanitanya harus maju pula, pintar seperti kaum laki-laki, sebab kaum wanita itu akan menjadi ibu. Merekalah yang paling dahulu mengajarkan pengetahuan kepada manusia, yaitu kepada anak-anak mereka, laki-laki maupun perempuan. (R. Dewi Sartika, 1911)

..Yang dimaksud agar kaum wanita orang Sunda bisa maju, meniru orang Eropa, mudah-mudahan bangsa kita tidak terlalu direndahkan oleh bangsa lain (R. Dewi Sartika)

Begitulah, 100 tahun yang lalu, seorang wanita pribumi mengungkapkan pemikirannya mengenai keharusan akan kemajuan pendidikan wanita dan keterkaitannya dengan kemajuan bangsa. Pemikiran yang jika dilontarkan pada masa kini mungkin hampir seluruh kepala akan mengangguk setuju. Tapi tidak pada kondisi saat itu, 1 abad yang lalu, ketika istilah pendidikan wanita pribumi, kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan, adalah suatu kalimat mimpi yang terdengar utopis.

Dialah Raden Dewi Sartika, wanita pribumi yang bermimpi (dan beraksi) memajukan bangsa melalui pendidikan wanita. Lahir pada 4 Desember 1884, merupakan seorang anak pribumi yang cukup beruntung sempat menikmati bangku Eeste Klasse School (sekolah setingkat SD) karena ayahnya Raden Rangga Somanegara pada saat itu menjabat sebagai Patih Bandung. Pada umur 9 tahun, Dewi Sartika terpaksa Drop Out karena ayahnya diasingkan oleh pemerintah Belanda ke Ternate setelah melakukan pemberontakan terkait kekecewaan atas tidak terpilihnya ia sebagai Bupati Bandung yang baru.

Ketika ayahnya akan diasingkan, ibunya lebih memilih untuk ikut suaminya ke tempat pengasingan dan menitipkan Dewi Sartika beserta saudaranya ke sanak keluarga di Bandung. Dewi Sartika dititipkan pada keluarga Patih Afdeling Cicalengka dan terpisah dengan saudaranya yang lain. Selama di Cicalengka, Dewi Sartika diperlakukan seperti abdi dalem, bahkan lebih buruk, dengan ditempatkan dikamar sempit dibelakang rumah dan sering kali dimarahi bahkan oleh abdi dalem sendiri. Perlakuan buruk tersebut dikarenakan kekhawatiran Patih Afdeling yang takut dianggap pemerintah Belanda melindungi anak seorang pemberontak.

Read More