Politisasi?
Kenapa belakang ini media cetak dan elektronik dipenuhi kata politisasi. Timnas Piala AFF di jadikan alat politisasi, kasus mafia pajak Gayus Tambunan di politisasi, Beredarnya buku biografi Presiden sebagai upaya politisasi, dan yang terakhir memanas lagi kasus politisasi hukum Bibit-Candra pasca penangkapan 19 mantan anggota DPR oleh KPK. Bagaimana sebenarnya orang-orang memaknai kata Politisasi. Mungkin permasalahannya adalah bagaimana memaknai kata dasarnya, Politik. Saya juga mulai mengkritisi doktrin pengertian Politik yang saya dapat. Dari pendidikan politik di organisasi kemahasiswaan, mengartikan bahwa Politik adalah alat yang digunakan untuk mencapai tujuan. Tujuan siapa? Tujuan individukah? Tujuan organisasikah? Atau Tujuan Negarakah? Tentu akan menjadi masalah ketika orang-orang yang sedang bekerja di lingkup wilayah negara tidak menggunakan politik untuk tujuan negara, tetapi menggunakan politik untuk tujuan organisasi (baca: Parpol) bahkan hanya untuk tujuan individu. Selain itu, bahwa karena Politik hanya sebagai Alat, artinya dia boleh digunakan boleh juga tidak. Dan untuk orang-orang yang memutuskan untuk menggunakannya, menjadi konsekuensi masing-masing individu dan organisasi untuk memilih cara yang baik atau cara yang buruk. padahal selama manusia di berikan hawa nafsu oleh Tuhan, dan selama setan-setan masih berkeliaran menjalankan misinya menjerumuskan manusia, maka selalu ada kemungkinan manusia memilih cara yang buruk.
Pengertian selalu diajadikan acuan dalam mengembangkan tindakan. Selama pengertian Politik tersebut yang dipercayai oleh para pemimpin dan pengertian tersebut juga yang terus diberikan kepada para mahasiswa, (yang notabene adalah calon pemimpin bangsa) melalui organisasi kemahasiswaan (walaupun hanya segelintir mahasiswa yang tertarik pada politik), mungkin kasus-kasus diatas akan terus terjadi di masa depan. Tidak heran juga kalau suasana Politik di kampus saja ketika pemilihan ketua senat di panaskan oleh suasana saling menjegal, saling tuduh melakukan kecurangan, bahkan ada adegan kejar2an tengah malem.segala. Jika kita kembali kepada dasar negara kita yaitu Pancasila, dimana sila pertama adalah Ketuhanan yang Maha Esa, maka marilah kita mulai mengkaji kembali pengertian Politik yang sesuai dengan ajaran Tuhan melalui agama. Melalui suatu forum yang menjelaskan Politik menurut Perspektif Islam, menurut narasumber, Politik dari perspektif Islam adalah cara untuk mengatur umat. Nah kan Politik itu hanya untuk mengatur umat, bukan yang lain-lain. Seharusnya pengertian ini yang mulai ditanamkan kepada para pelaku politik. Normatif? Ya memang. Dan selalu akan begitu. Mungkin bagi orang yang sekarang menerapkan pengertian ini di dunia Politik, dia akan dianggap gila (padahal waras) oleh orang-orang yang merasa dirinya waras (padahal gila).
Ah memang gila..