anggrainilestari

a common girl who endeavor to be outstanding woman

  • 9th February
    2011
  • 09

#Solutif : Pena Bangsa, you did it!

Jika saatnya kelak tiba giliran kami generasi muda menjadi pemimpin bangsa ini, akankah kami melakukan tindakan yang sama dengan para pemimpin kami hari ini? Akankah kami melakukan hal yang lebih baik? Atau mungkin lebih buruk? Kami generasi muda yang sejak kini telah diamanahi masa depan bangsa, yang hidup dan besar ditengah kondisi sosial budaya yang semakin mengarah kepada individualistis, yang hidup dan besar ditengah kondis para pemimpin yang saling menghina dan menjatuhkan, tetapi dituntut untuk menjadi generasi pemegang masa depan bangsa yang solid. Kami generasi muda yang menyaksikan bagaimana para pemimpin kami hari ini sibuk memperkaya diri sendiri, yang menyaksikan bagaimana kondisi sosial menjadi semakin materialistis, tetapi dituntut untuk menjadi generasi pemegang masa depan bangsa yang mampu melayani masyarakat dengan tulus.

Salah siapa?

Enam puluh lima tahun sudah bangsa ini merdeka, tetapi masih banyak masalah krusial yang belum terselesaikan. Jutaan rakyat masih terbelenggu dalam lingkaran setan kemiskinan dan kebodohan. Rakyat terlahir dalam kondisi miskin, sehingga memiliki pendapatan yang kecil. Karena pendapatannya kecil, kemampuan memperoleh pendidikan menjadi rendah. Pendidikan yang rendah menyebabkan mereka memiliki pengetahuan yang kurang. Pengetahuan yang kurang, menyebabkan produktivitas menjadi kecil. Karena produktivitas kecil, maka mereka tetap miskin, dan begitu seterusnya dari generasi ke generasi.

Para pemimpin kami hari ini telah berusaha untuk memutus alur lingkaran setan tersebut dengan memajukan pendidikan. Tetapi tidak bisa dipungkiri, upaya mengalokasikan 20% APBN untuk pendidikan tidaklah cukup. Kenyataannya kualitas pendidikan negara ini masih jauh tertinggal dari negara lain. Dari hasil studi kemampuan membaca untuk tingkat Sekolah Dasar yang dilaksanakan oleh organisasi International Educational Achievement (IEA) menunjukkan bahwa siswa SD Indonesia berada pada urutan ke-38 dari 39 negara peserta studi. Sementara untuk tingkat SLTP, studi untuk kemampuan matematika siswa Indonesia pada urutan ke-34 dari 38 negara. Untuk kemampuan IPA pada urutan ke-32 dari 38 negara peserta. Lebih buruk lagi masih banyak anak Indonesia yang tidak bisa mendapatkan hak menikmati pendidikan, bahkan hanya untuk pendidikan dasar. Disaat anak-anak lain duduk manis di bangku sekolah, ribuan anak lainnya masih berkeliaran di jalanan, memasang wajah memelas untuk memperoleh recehan dari para pemilik mobil mewah. Disaat mereka seharusnya dilayani dan dididik, mereka diperlakukan dengan kasar bahkan dilecehkan dijalanan.

Siapakah yang paling bertanggung jawab terhadap masalah tersebut? Sebagian besar orang menyalahkan pemerintah atas situasi tersebut. Beberapa orang mencoba berpikir bijak dengan tidak secara langsung menyalahkan pemerintah. Mereka berkata bahwa masalah ini disebabkan oleh kondisi sistem yang belum ideal. Sistem yang tidak memberikan hak yang sama kepada seluruh warga negara untuk menikmati pendidikan yang layak. Diantara sedikit pihak yang disalahkan, adakah yang menyalahkan diri kita sendiri? Adakah yang pernah berpikir bahwa masalah tersebut adalah akibat dari tindakan kita yang terlalu apatis dan tidak peduli dengan nasib mereka? Kita yang hanya banyak bicara tanpa melakukan tindakan nyata apapun dalam menunggu proses pencapaian idealitas tersebut.

Berhentilah hanya beretorika!

Melihat realitas kehidupan dan pendidikan anak-anak Indonesia memang sangat menyedihkan. Tapi kalau kita hanya besedih tanpa melakukan sesuatu, maka tangisan generasi berikutnya adalah tangisan berdarah, dan kita seharusnya disebut sebagai generasi yang gagal melakukan perbaikan di negeri ini. Pendidikan seharusnya menjadi sorotan penting semua pihak jika kita ingin bangsa ini lebih maju. Bukan hanya menjadikannya sebagai alat politik, perebutan kekuasaan, dan perdebatan yang cenderung mengaburkan kesadaran kita, melupakan urgensi pendidikan untuk masa depan bangsa.

Negara ini tidak membutuhkan generasi yang hanya gemar menyalahkan dan menjatuhkan orang lain, atau yang hanya gemar berbicara, menuntut, dan mengkritik tindakan orang lain. Diperlukan generasi yang mampu melakukan usaha dan kontribusi nyata dalam menata masa depan Indonesia yang lebih baik. Apa yang terjadi pada Indonesia hari ini, adalah buah dari keputusan dan tindakan masa lalu. Apa yang terjadi pada Indonesia di masa akan datang, adalah buah dari keputusan dan tindakan di masa kini. Tidaklah cukup lagi jika kita hanya beretorika menuntut para pemimpin untuk memberantas kemiskinan dan kebodohan. Berhentilah hanya beretorika. Bangsa ini tidak akan bangkit hanya dengan diteriaki.

 

Pena Bangsa

Indonesia membutuhkan generasi muda yang memiliki jiwa kepemimpinan yang lebih efektif. Generasi muda yang mampu berpikir berdasar tujuan negara, kemudian mendefinisikannya dan menegakkannya secara jelas dan nyata. Membentuk suatu organisasi sosial pendidikan dapat dilakukan sebagai wujud dari penegakan yang jelas dan nyata dari tujuan negara dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan Pena Bangsa (Peduli Anak Bangsa) adalah satu diantara sedikit organisasi sosial pendidikan tersebut. Melalui organisasi seperti ini, generasi muda dapat membuat berbagai solusi untuk membantu masalah pendidikan anak-anak tersebut. Salah satu contohnya adalah program kakak adik asuh dimana para mahasiswa menjadi kakak asuh dari anak-anak yang kesulitan dalam mengakses pendidikan karena kemampuan ekonomi yang rendah. Inilah salah satu cara generasi muda untuk melatih kepemimpinan yang solid dan menumbuhkan semangat melayani masyarakat dengan cara sekecil apapun.

Seperti yang dikatakan oleh Kenneth Blanchard, kepemimpinan dimulai dari dalam hati dan keluar untuk melayani mereka yang dipimpinnya. Terjun secara langsung melayani anak-anak tersebut, membantu biaya pendidikan mereka, mendatangi sekolah mereka, melihat tempat tinggal dan pekerjaan orang tua mereka, mengajarkan materi sekolah kepada mereka, membuat kami mengetahui permasalahan yang terjadi secara mendalam. Disaat program sekolah gratis tengah digembar-gemborkan pemerintah, kenyataannya masih ada saja uang yang harus orang tua mereka keluarkan untuk kegiatan sekolah. Disaat pemerintah ingin meningkatkan kualitas pendidikan dengan cara menaikan standard nilai kelulusan setiap tahun, kenyatannya mereka anak-anak yang nota bene miskin, asupan gizi rendah, kecerdasan pas-pasan, dan tidak mampu mengikuti program bimbingan belajar yang mahal, menjadikan ujian nasional sebagai alat evaluasi yang tidak adil bagi mereka.

Melalui organisasi seperti ini, generasi muda belajar untuk menjadi sandaran harapan masa depan anak-anak bangsa. Menjadi sandaran menuntut generasi muda untuk berpikir kreatif mencari solusi atas permasalahan yang terjadi. Berpikir bagaimana cara memperoleh dana untuk biaya pendidikan mereka, beripikir bagaimana cara untuk memotivasi semangat mereka, berpikir bagaimana cara untuk membuat mereka lebih pintar. Menjadi sandaran juga melatih mental untuk bertanggung jawab dan rela berkorban demi kepentingan mereka. Tanggung jawab generasi muda tidak sebatas mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin masa depan, tetapi juga mempersiapkan generasi selanjutnya untuk menjadi pemimpin masa depan bangsa yang lebih jauh lagi.

Inilah sedikit langkah nyata yang dapat dilakukan generasi muda untuk membantu menyelesaikan masalah sosial pendidikan sekaligus melatih diri menjadi generasi yang solid dalam melayani masyarakat. Kenapa kita harus membebankan seluruh tanggung jawab kepada pemerintah? Toh kita juga sebagai warga negara memiliki kewajiban yang sama untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Dengan cara ini, kita menjadi bermanfaat sesuai peran yang sedang dijalani hari ini sebagai mahasiswa. Hingga kelak tiba saatnya menjalani peran yang lebih besar sebagai pemimpin bangsa, kita telah siap untuk memberikan manfaat yang lebih banyak untuk masyarakat.

Esprit Pena Bangsa! Untuk setiap mimpi indah anak Indonesia..

Tidak lagi berada dalam struktur organisasi bukan berarti pergi, atau membuat saya melupakan mimpi. Saya masih disini, membangun setiap mimpi, dengan cara berbeda, sekuat tenaga..