anggrainilestari

a common girl who endeavor to be outstanding woman

  • 23rd March
    2011
  • 23

Saya Anak Ekonomi

Saya memang anak ekonomi. Kuliah di Fakultas Ekonomi. Tapi saat ini saya tidak sedang membicarakan tentang Fakultas Ekonomi. Tapi tentang realita ekonomi.

Beberapa bulan yang lalu saya melakukan perjalanan (sendirian) ke sebuah tempat di daerah Jawa Tengah untuk menjalankan suatu misi rahasia. Berangkat pukul 7 malam dengan diantar oleh naya dan adi menuju statsiun kiaracondong, saya pun membeli tiket kereta api Kutajaya Selatan. Dengan membayar Rp 19.000, saya mendapat satu tiket kereta api  jurusan Bandung-Kutoarjo tersebut. Bingung kenapa harga tiketnya murah? Jelas aja murah karena kereta ini adalah kereta kelas ekonomi. Iya, temen2 saya nganggap saya cewe nekat karena melakukan perjalanan jauh, malem2, sendirian, naik kereta ekonomi pula.

Kereta ekonomi kan sempit desek2an.

Kereta ekonomi kan banyak pedagang, pengamen, pencopet.

Kereta ekonomi kan serem banyak cowo2 iseng yang suka ngegodain.

Kereta ekonomi kan segala macem bau ada. Bau keringet, bau ketek, bau ayam, bau wc.

Iya memang betul, tapi cuma di kereta ekonomi saya bisa melihat realitas ekonomi dan sosial masyarakat kita. Hal yang ngga bisa saya liat kalau saya memilih naik kereta kelas eksekutif atau bisnis.

Dengan rasa was2 saya memasuki gerbong 6 sesuai dengan lokasi tempat duduk saya yang tercantum di tiket. Seketika tercium bau ammonia yang sangat menusuk hidung. Kemudian tiba2 muncul sesosok  pangeran berkuda yang sangat tampan (heu.. ngga deng), muncul seorang pedagang minuman yang dengan baiknya mengantarkan mencari tempat duduk saya. Akhirnya berkat bantuan si emang minuman ketemu juga lokasi tempat duduk saya. Saya pun duduk dengan hati lega. Baru aja pantat nempel di kursi, dengan tiba2 lagi si emang menyodorkan minuman kepada saya sambil berkata :

“ini neng aqua nya 3 ribu mijon nya 5 ribu.”

“Eh ngga mang udah bekel”

“Da cuma 3 ribu atuh neng” mulai maksa

“Yaudah aqua nya aja satu “

Si emang pun kemudian melenggang pergi. Mijon.. Mijon..

Di depan saya duduk seorang nenek2 yang lagi asik makan kacang. Karena mukanya keliatan galak saya ngga berani nyapa atau nanya. Beberapa saat kemudian datang seorang laki2 yang memapah seorang perempuan yang terlihat kesakitan. Dengan sangat hati2 perempuan itu didudukkan di sebelah saya. Mukanya sangat pucat. Sambil terus memegangi perutnya ia meringis kesakitan.

“nopo mba?” nenek bermuka galak itu bertanya

“loro” jawab perempuan itu dengan sangat lirih

“loro opo?” nenek itu bertanya lagi

“usus buntu” kali ini laki2 itu yang menjawab. Ternyata dia adalah suaminya.

Karena perempuan itu terus menerus meringis kesakitan, maka saya memberikan tempat duduk saya supaya dia bisa berbaring. Saya pun duduk di sebelah nenek bermuka galak. Karena kasian liat si suami berdiri terus, saya pun geser merapat ke si nenek, supaya si suami bisa duduk di sebelah saya.

 

Saya mulai nanya2 ke si suami. Ternyata mereka berdua adalah asli orang kutoarjo yang bekerja di Bandung. Si suami bekerja sebagai pegawai pabrik di daerah caringin. Sedangkan istrinya adalah seorang pengasuh anak di daerah Moh Toha. Ya, walaupun bekerja di satu kota tapi mereka tidak tinggal bersama. Si suami tinggal di kamar kontrakan dekat pabriknya sedangkan istrinya tentu saja harus tinggal di rumah majikannya. Mereka berdua memiliki satu anak laki2 yang tinggal bersama neneknya di kutoarjo.

Beberapa bulan yang lalu istrinya bekerja menjadi TKI di Hongkong, tetapi karena sakit maka ia di pulangkan kembali ke Indonesia. Pulang dari hongkong istrinya sempat di rawat di rumah sakit karena keluhan sakit di perutnya. Setelah dirawat kemudian istrinya sembuh dan mulai mencari pekerjaan baru sebagai pengasuh anak. Tetapi baru beberapa minggu bekerja, istrinya mengeluh sakit lagi. Suaminya memeriksakan ke rumah sakit dan dokter mengatakan bahwa istrinya sakit usus buntu dan harus di operasi. Dengan alasan klasik tapi nyata, tidak ada biaya, istrinya pun dibawa pulang dan dirawat di rumah oleh suaminya.

Selama beberapa hari istrinya hanya meminum obat dari dokter yang menurut dugaan saya itu cuma obat penghilang rasa sakit, bukan untuk menyembuhkan. Karena sakitnya makin hari makin parah, bingung tidak ada biaya untuk operasi, di tambah suaminya yang harus terus bolos bekerja karena menjaga istrinya, yang artinya juga akan terus mengurangi upah si suami, maka mereka memutuskan untuk membawa istrinya pulang ke kutoarjo dengan kereta ekonomi. Mereka hanya dihadapkan pada dua pilihan, naik bis ekonomi atau kereta ekonomi. Ya, dua2 nya kelas ekonomi. Ngga ada pilihan kereta bisnis, eksekutif, apalagi nyewa mobil pribadi. Suaminya bilang, “lebih murah naik kereta daripada naik bis mba. Naik kereta juga lebih enak”.

See? Masih ada yang bilang enak untuk tempat yang kita bilang sempit, serem, bau keringet, bau ketek, bau ayam, bau wc. Dengan membawa istrinya pulang, si suami berharap minimal di sana ada keluarga yang bisa merawatnya. Karena untuk biaya opearsi, si suami sendiri pun tidak yakin keluarganya bisa membantu.

To be continued

Tag @menkoekonomi @menterikesehatan