anggrainilestari

a common girl who endeavor to be outstanding woman

  • 28th March
    2011
  • 28

Saya anak ekonomi part 2

Oke ini adalah cerita lanjutan perjalanan saya dalam menjalankan misi rahasia. Masih inget nenek2 berwajah galak yang saya ceritakan sebelumnya? Nah sekarang saya akan mengulas sedikit kisah hidup si nenek. Setelah saya pindah duduk ke sebelah si nenek (supaya si perempuan yang sakit bisa berbaring), saya mulai banyak ngobrol dengan nenek tersebut. Dan ternyata dia sangat baik, tapi memang garis mukanya terlihat galak. Mungkin terbentuk karena goresan kerasnya hidup..

Dengan bahasa jawa dan Indonesia yang campur aduk si nenek bercerita tentang kisah hidupnya. Ternyata si nenek adalah penjual rempah-rempah di pasar andir, ciroyom, dan pasar baru. Berbagai macam daun2an dan tanaman untuk obat2an dan bumbu masak, di ambil dari kampungnya untuk kemudian di jual di Bandung. Si nenek bolak-balik Bandung-Kutoarjo 1-2 kali seminggu. Setiap pulang ke kampung minimal si nenek membawa 1 karung rempah2 yang beratnya mencapai 50 kg. Dan selama bertahun-tahun si nenek menggendong karung itu sendirian. Padahal postur tubuh nenek itu lebih kecil dari saya. Bandingkan dengan saya yang cuma bawa buku cost accounting dan intermediate accounting aja udah ngga tahan sama beratnya. You are rock grandma!

Waktu lagi ngobrol2 sama si nenek, datanglah petugas pemeriksa tiket. Saya dan suami istri yang sakit itu memberikan tiket milik kami untuk di tandai. Tapi si nenek tidak memberikan tiketnya. Dengan entengnya si nenek ngasih salam tempel buat petugas tiket. Dan masuklah duit itu ke kantong petugas. Ternyata si nenek memang tidak pernah membeli tiket setiap naik kereta. Bisa dibilang si nenek adalah penumpang tetap kereta ini selama bertahun-tahun, tapi katanya dari dulu dia ngga pernah beli tiket.

“Tadi ngasih berapa?” Saya iseng nanya

“wolu ngewu (delapan ribu)” kata si nenek

Mengko ono siji mening nang Banjar (nanti ada satu lagi di Banjar)” lanjut si nenek

Sebenarnya harga tiket bandung-Kutoarjo kalau tidak salah 26 ribu. Berarti si nenek menghemat 10 ribu setiap naik kereta. Lumayan.. Saya bayar tiket 19 ribu karena tempat tujuan saya turun sebelum Kutoarjo.

Setelah petugas karcis lewat, kami melanjutkan perbincangan. Si nenek bertanya, saya sudah kerja atau belum. Saya jawab belum karena masih kuliah. Lalu si nenek menceritakan tentang keluarganya. Si nenek punya 4 anak dan sudah lama tidak memiliki suami. Bukan karna suaminya meninggal, tapi karena bercerai. Memang karakter orang Indonesia senang bercerita sampai2 masalah pribadi saja dia certakan ke saya. Si nenek bilang dia ngga suka sama suaminya karna dulu suka judi nomer dan ngabisin duit. Sejak saat itu dia sendiri yang bekerja untuk menghidupi anak2nya. Waktu bercerai anaknya baru tiga dan dia tidak tau kalau waktu itu sedang hamil anak keempat. Sempat hilang kendali karna marah dengan suaminya dan merasa tidak akan sanggup menghidupi anak2nya, apalagi kalau sampai punya anak lagi, si nenek berusaha menggugurkan kandunganya. Dia bahkan memberitahu saya ramuan untuk ngegugurin kandungannya. Si nenek minum sedikit ramuannya. Lalu katanya perutnya terasa sangat sakit seperti di iris2 pisau. Tapi setelah minum ramuan itu kandungannya tidak gugur. Si nenek berhenti minum ramuannya karna tidak tahan dengan sakitnya. Sampai akhirnya si nenek sadar akan kekhilafannya dan memutuskan untuk terus menjaga kandungannya. Hingga lahirlah anak perempuan terakhir, umurnya 2 tahun di bawah saya.  

Satu yang paling membuat saya kagum dengan si nenek. Si nenek mulai memutuskan untuk bekerja jauh2, mengangkat beban berat2, dan tetap bertahan selama bertahun2, untuk memenuhi keinginan si bungsu (yang justru dulu sempat tidak diharapkan kehadirannya) yang ingin terus melanjutkan sekolah. Dari dulu anak terakhirnya itu, paling senang sekolah. Si nenek tidak ingin kalau satu anaknya yang terakhir ini sampai putus sekolah. Maka ia terus bertahan, dengan beban berat di pundak, dengan cucuran peluh di tubuh, dengan bau ammonia dari tubuh manusia, dalam kereta ekonomi Kutadjaya.

 To be Continued

Waktu saya bilang belum kerja karena masih kuliah, si nenek dengan bangga bilang, anakku juga masih kuliah. Semester 3, di Jogja, jurusan bahasa Inggris..

Tags @menkoekonomi @menteripendidikan @mahasiswaekonomi