Menyalakan Inspirasi Sampai ke Pelosok Negeri
cursing darkness? Better light more & more candles -Anis Baswedan-
Kadang rasa penat timbul setiap kali melihat pemberitaan berbagai masalah yang terjadi di negeri ini. Morat-marit ekonomi, carut marut hukum, intrik politik, bentrok ideologi, krisis budaya, serta ketimpangan sosial dan pendidikan. Sudah terlalu banyak opini yang lebih cenderung berisi keluhan. Sudah ada banyak argumen kritis dan tawaran alternatif solusi dari berbagai pihak. Solusi yang sayangnya lebih sering berujung menjadi tumpukan ide yang tidak pernah terealisasi. Solusi fantastis yang akhirnya justru menjadi utopis karena selalu dibuntutui rasa pesimis. Sungguh, sudah terlalu banyak orang yang mengeluh dalam kegelapan, sudah ada banyak orang kritis yang duduk, berpikir, dan berbicara tentang kegelapan. Tapi, ada berapa banyak orang yang berdiri dan bergerak untuk membuat cahaya? Berapa banyak orang yang lebih memilih melakuakn tindakan? Mencari dan menyalakan lilin walaupun tahu bahwa cahayanya tidak seterang lampu jalan..
Melihat adanya permasalahn ketimpangan fasilitas pendidikan antara anak-anak daerah kota dan daerah terpencil, maka Jumat 15 April 2011 diluncurkan sebuah gerakan baru untuk menyalakan cahaya ilmu bagi anak-anak daerah terpencil yang masih berada dalam kegelapan pengetahuan. Gerakan tersebut bernama Indonesia Menyala.. Indonesia Menyala adalah gerakan buku dan perpustakaan yang diinisiasikan oleh Gerakan Indonesia Mengajar. Program perpustakaan Indonesia Menyala ini berawal dari hasil pengamatan sejumlah Pengajar Muda (PM) sejak mereka ditempatkan. Mereka melihat bahwa mayoritas anak didik mereka kekurangan dan kesulitan mengakses bahan bacaan yang bermutu. Padahal kita yakin bahwa buku tidak hanya berfungsi sebagai jendela dunia, tetapi juga menjadi sumber motivasi dan inspirasi bagi anak-anak untuk bermimpi. Mengetahui betapa pentingnya buku dan melihat kebutuhan yang sangat tinggi terutama untuk anak-anak di pelosok Indonesia, maka Indonesia Menyala tergerak untuk mengadakan program perpustakaan.
“Ide dasar program ini adalah bukan sekedar mengajak masyarakat menyumbang buku, tetapi mengajak untuk ikut membangun, memiliki, dan mengembangkan perpustakaan di pelosok Indonesia”
Ya, di pelosok Indonesia. Perpustakaan Indonesia Menyala nantinya akan bertempat di wilayah penempatan Pengajar Muda di 50 lokasi Sekolah Dasar (SD) di 5 kabupaten.
1. Kabupaten Paser (Kalimantan Timur). Untuk mencapai kabupaten Paser ditempuh selama 5 jam perjalanan dari kota Balikpapan melalui laut dan darat. Namun, untuk mencapai lokasi SD penempatan di daratan perlu menambah perjalanan darat Iagi selama 1-2 jam. Untuk lokasi SD di pesisir, perlu menambah waktu 4 jam perjalanan darat, kemudian dilanjutkan dengan naik perahu nelayan selama 1-2 jam perjalanan. Dua lokasi merupakan SD di pesisir yang ‘mengapung’ di atas air karena berada di wilayah kampung nelayan. Jalanan di kampung nelayan ini tersusun oleh papan-papan. Selain tidak ada kendaraan bermotor, di kampung ini juga tidak ada Iistrik dan sumber air bersih.
2. kabupaten Majene (Sulawesi Barat). Untuk mencapai lokasi kabupaten Majene ditempuh 7 jam perjalanan darat dari kota Makassar. Untuk mencapai lokasi SD penempatan yang berada di pegunungan, diperlukan waktu 1,5 - 4 jam perjalanan dari ibukota kabupaten. Sebagian besar daerah ini, masih minim listrik dan berlokasi di pegunungan. Untuk mencapainya, perlu melalui daerah hutan dengan jalan berkelok dan menanjak dengan kemiringan 45-60 derajat.
3. Kabupaten Bengkalis (Riau). Untuk mencapai kabupaten Bengkalis ditempuh 6 jam perjalanan dari Pekanbaru melalui darat dan laut. Perjalanan ke lokasi SD sekitar 3 jam melalui jalan darat dan Iaut dari ibukota kabupaten. Dua dari sepuluh orang PM yang bertugas di kabupaten ini, mengajar suku Anak Dalam (Suku Akit) yang tinggal di hutan pedalaman dan kerapkali berpindah tempat.
4. Kabupaten Halmahera Selatan (Maluku Utara). Untuk menuju ibukota kabupaten harus menempuh 8 jam perjalanan laut dengan menggunakan kapal dari kota Ternate. Karena beberapa lokasi SD terletak di pulau yang berbeda dengan pulau lokasi ibukota kabupaten, perlu menambah waktu perjalanan laut sekitar 1-3 jam dengan menggunakan perahu kecil (ketinting). Jadwal perjalanan dengan perahu ke sebagian lokasi, hanya ada 2-3 kali seminggu dan sangat dipengaruhi oleh keadaan cuaca. Beberapa daerah seperti di Bibinoi, belum terjangkau listrik dan sinyal telepon seluler.
5. Kabupaten Tulang Bawang Barat (Lampung). Daerah penugasan di Kabupaten Tulang Bawang Barat-Lampung, dapat ditempuh 4 jam perjalanan darat dari kota Bandar Lampung. Lalu ditambah perjalanan darat lagi ke SD lokasi penempatan selama 3-4 jam melalui hutan karet dan sawit dengan jalan tanah berlumpur.

Gerakan Indonesia Menyala bukan mengajak masyarakat untuk menjadi “penyumbang buku”, melainkan menggalang masyarakat untuk menjadi “PEJUANG PENDIDIKAN”. Kurang dari satu bulan setelah peluncuran gerakan Indonesia Menyala, anggota yang tergabung dan mulai berkontribusi dalam gerakan ini sudah lebih dari 1000 orang. Setiap anggota yang tergabung dengan gerakan ini disebut Penyala. Kontribusi yang diberikan Penyala dapat berupa donasi dalam bentuk buku baru maupun buku lama sesuai kebutuhan daerah, dana/uang, tenaga untuk membantu menyalurkan bantuan ke daerah sasaran, ide dalam pengembangan, pengelolaan, atau mekanisme pengumpulan buku kepada sesama Penyala, mencari sponsor kerjasama dengan perusahaan seperti dengan penerbit buku atau jasa pengiriman, serta kontribusi keahlian seperti yang dilakukan teman-teman dari jurusan perpustakaan dan arsitektur yang membantu merancang konsep perpustakaan.

Gerakan Indonesia Menyala terbuka bagi semua orang tanpa batasan umur maupun latar belakang. Bahkan anak-anak dari beberapa SD di Jabotabek ikut berkontribusi dalam gerakan ini. SD Tunas Global Jakarta membuat poster “Penyemangat teman-teman SD” untuk teman-teman mereka di pelosok Indonesia. SD Tiara Bangsa menyumbangkan 1.100 buku (sebagian besar buku dalam bahasa Inggris). SDN Polisi 5 Bogor, siswa kelas 6 menyumbangkan buku, sementara siswa kelas 5 menulis surat (menjadi sahabat pena).
Sebagai langkah awal, Indonesia Menyala menargetkan mengumpulkan 5100 buku dan akan dikirmkan secara perdana ke semua daerah penempatan pada tanggal 20 Mei 2011. Ya, 20 Mei 2011, sebagai momentum mewujudkan Kebangkitan Nasional melalui Perjuangan Pendidikan.
Karena mendidik bukan cuma tugas konstitusional negara, tapi tugas moral tiap orang terdidik-Anis Baswedan-
Gabung di Facebook Group: Indonesia Menyala | Twitter: @Penyala untuk menjadi PEJUANG PENDIDIKAN
-
theyanirma liked this
-
anggrainilestari posted this