Raden Dewi Sartika

Bagaimana caranya agar bangsa kita bertambah maju? Hal itu oleh para pembesar sudah dipikirkan, yaitu kaum wanitanya harus maju pula, pintar seperti kaum laki-laki, sebab kaum wanita itu akan menjadi ibu. Merekalah yang paling dahulu mengajarkan pengetahuan kepada manusia, yaitu kepada anak-anak mereka, laki-laki maupun perempuan. (R. Dewi Sartika, 1911)
..Yang dimaksud agar kaum wanita orang Sunda bisa maju, meniru orang Eropa, mudah-mudahan bangsa kita tidak terlalu direndahkan oleh bangsa lain (R. Dewi Sartika)
Begitulah, 100 tahun yang lalu, seorang wanita pribumi mengungkapkan pemikirannya mengenai keharusan akan kemajuan pendidikan wanita dan keterkaitannya dengan kemajuan bangsa. Pemikiran yang jika dilontarkan pada masa kini mungkin hampir seluruh kepala akan mengangguk setuju. Tapi tidak pada kondisi saat itu, 1 abad yang lalu, ketika istilah pendidikan wanita pribumi, kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan, adalah suatu kalimat mimpi yang terdengar utopis.
Dialah Raden Dewi Sartika, wanita pribumi yang bermimpi (dan beraksi) memajukan bangsa melalui pendidikan wanita. Lahir pada 4 Desember 1884, merupakan seorang anak pribumi yang cukup beruntung sempat menikmati bangku Eeste Klasse School (sekolah setingkat SD) karena ayahnya Raden Rangga Somanegara pada saat itu menjabat sebagai Patih Bandung. Pada umur 9 tahun, Dewi Sartika terpaksa Drop Out karena ayahnya diasingkan oleh pemerintah Belanda ke Ternate setelah melakukan pemberontakan terkait kekecewaan atas tidak terpilihnya ia sebagai Bupati Bandung yang baru.
Ketika ayahnya akan diasingkan, ibunya lebih memilih untuk ikut suaminya ke tempat pengasingan dan menitipkan Dewi Sartika beserta saudaranya ke sanak keluarga di Bandung. Dewi Sartika dititipkan pada keluarga Patih Afdeling Cicalengka dan terpisah dengan saudaranya yang lain. Selama di Cicalengka, Dewi Sartika diperlakukan seperti abdi dalem, bahkan lebih buruk, dengan ditempatkan dikamar sempit dibelakang rumah dan sering kali dimarahi bahkan oleh abdi dalem sendiri. Perlakuan buruk tersebut dikarenakan kekhawatiran Patih Afdeling yang takut dianggap pemerintah Belanda melindungi anak seorang pemberontak.



