anggrainilestari

a common girl who endeavor to be outstanding woman

  • 16th December
    2011
  • 16

Raden Dewi Sartika

Bagaimana caranya agar bangsa kita bertambah maju? Hal itu oleh para pembesar sudah dipikirkan, yaitu kaum wanitanya harus maju pula, pintar seperti kaum laki-laki, sebab kaum wanita itu akan menjadi ibu. Merekalah yang paling dahulu mengajarkan pengetahuan kepada manusia, yaitu kepada anak-anak mereka, laki-laki maupun perempuan. (R. Dewi Sartika, 1911)

..Yang dimaksud agar kaum wanita orang Sunda bisa maju, meniru orang Eropa, mudah-mudahan bangsa kita tidak terlalu direndahkan oleh bangsa lain (R. Dewi Sartika)

Begitulah, 100 tahun yang lalu, seorang wanita pribumi mengungkapkan pemikirannya mengenai keharusan akan kemajuan pendidikan wanita dan keterkaitannya dengan kemajuan bangsa. Pemikiran yang jika dilontarkan pada masa kini mungkin hampir seluruh kepala akan mengangguk setuju. Tapi tidak pada kondisi saat itu, 1 abad yang lalu, ketika istilah pendidikan wanita pribumi, kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan, adalah suatu kalimat mimpi yang terdengar utopis.

Dialah Raden Dewi Sartika, wanita pribumi yang bermimpi (dan beraksi) memajukan bangsa melalui pendidikan wanita. Lahir pada 4 Desember 1884, merupakan seorang anak pribumi yang cukup beruntung sempat menikmati bangku Eeste Klasse School (sekolah setingkat SD) karena ayahnya Raden Rangga Somanegara pada saat itu menjabat sebagai Patih Bandung. Pada umur 9 tahun, Dewi Sartika terpaksa Drop Out karena ayahnya diasingkan oleh pemerintah Belanda ke Ternate setelah melakukan pemberontakan terkait kekecewaan atas tidak terpilihnya ia sebagai Bupati Bandung yang baru.

Ketika ayahnya akan diasingkan, ibunya lebih memilih untuk ikut suaminya ke tempat pengasingan dan menitipkan Dewi Sartika beserta saudaranya ke sanak keluarga di Bandung. Dewi Sartika dititipkan pada keluarga Patih Afdeling Cicalengka dan terpisah dengan saudaranya yang lain. Selama di Cicalengka, Dewi Sartika diperlakukan seperti abdi dalem, bahkan lebih buruk, dengan ditempatkan dikamar sempit dibelakang rumah dan sering kali dimarahi bahkan oleh abdi dalem sendiri. Perlakuan buruk tersebut dikarenakan kekhawatiran Patih Afdeling yang takut dianggap pemerintah Belanda melindungi anak seorang pemberontak.

Read More

  • 8th December
    2011
  • 08

Indonesia Pusaka

Indonesia tanah air beta

Pusaka abadi nan jaya

Indonesia sejak dulu kala

Selalu dipuja-puja Bangsa

Di puncak Sikunir-Dieng, lagu Indonesia Pusaka mengalun merdu, mengiringi pandangan mata menyapu keindahan semesta.

Kabut, Sindhoro, Merbabu, Merapi, hamparan bukit hijau, Cahaya matahari yang memoles langit kelabu.

Aku,

Terharu..

Pengen nangis tapi malu. :p

Pantas jika para pendaki Mahameru (katanya) selalu menangis termehek-mehek ketika lagu Indonesia Raya mengalun gagah mengiringi pengibaran bendera merah putih. Berdiri di puncak Sikunir saja sudah ingin menangis terharu, apalagi berdiri di puncak tertinggi Pulau Jawa itu. 

Di sana tempat lahir beta

Dibuai dibesarkan bunda

Tempat berlindung di hari tua

Sampai akhir menutup mata

Berharap suatu hari nanti saya pun bisa menapaki puncak Mahameru.

sumber foto Mahameru

  • 29th September
    2011
  • 29

Dari Radio sampai Marhaenisme (Part 2)

Saya: “Marhaen tu siapa sih?”

Temen: (dengan gaya meyakinkan) “Gurunya Soekarno. Pernah denger partai PNI Marhaenis kan?”

Saya: “Ohh I see..”

Setelah selesai melihat2 stasiun radio, kami pun melanjutkan perjalanan menuju tempat selanjutnya. Katanya kami akan diajak melihat makam Pak Marhaen. Dengan modal pernah denger nama PNI Marhaenis ditambah pengetahuan sesat  kalau Pak Marhaen adalah gurunya Soekarno, saya dengan setia mengikuti perjalanan panjaaaaang berliku2 menyusuri galengan sawah menuju makam Pak Marhaen.

Sesampainya di makam Pak Marhaen, akhirnya saya mendapat pencerahan mengenai siapa sosok Marhaen sebenarnya dari cerita kang indra.

Alkisah Soekarno muda sedang berjalan-jalan di Kawasan Bandung Selatan, menyusuri galengan sawah yang tadi kami lewati (heu.. ngarang). Kemudian Soekarno bertemu dengan seorang petani yang sedang bekerja di sawah. Nama petani tersebut adalah Pak Marhaen. Sawah yang digarap Pak Marhaen adalah milik Pak Marhaen sendiri. Beliau bukanlah seorang buruh tani yang bekerja untuk sawah orang lain. Tetapi walaupun begitu, kehidupan Pak Marhaen tetap sulit karena hasil sawahnya hanya cukup untuk makan keluarga sehari2. Melihat mayoritas kondisi sosial masyarakat Indonesia yang hidupnya sulit, terkangkangi (bahasanya kang indra) oleh masyarakat kelas borjuis, mendorong Soekarno untuk membuat gerakan perjuangan untuk membebaskan penderitaan masyarakat kelas bawah. Paham gerakannya dinamakan Marhaenisme, karena terinspirasi oleh Pak Marhaen sebagai simbol penderitaan rakyat kecil.

Wait!

Read More

  • 27th September
    2011
  • 27

Dari Radio Sampai Marhaenisme (Part 1)

Sejak obrolan random setaun lalu dengan dua teman saya yang menyentil kesadaran tentang banyaknya perubahan wajah kota Bandung (read my post Bandoengkoe), saya jadi punya hobi baru luntang-lantung jalan kaki sendirian, bagaikan syahrini tanpa mas anang, menyusuri sudut2 kota Bandung. Berjalan kaki untuk sekedar meresapi dan menikmati suasana (semerawut) Bandung hari ini. Bernostalgia dengan memori kenyamanan Bandung masa lalu. Bermain dengan imaji khayal masa depan, membayangkan akan seperti apa tempat yang saya lewati hari ini 20 tahun mendatang.

Tapi sepertinya mulai sekarang saya ngga perlu lagi jalan kaki sendirian. Karena apa?

Karena Briptu Norman sudah mengundurkan diri dari kepolisian..:p

Oke bukan.. Tapi karena sekarang saya sudah bergabung dengan komunitas yang hobinya mapay jalan abring2an menyusuri tempat2 yang menyimpan banyak cerita tentang Kota Bandung. Yes, Komunitas Aleut!

Ngaleut pertama saya adalah hari minggu lalu saat episode Dayeuh Kolot 2. Kami menyusuri jejak2 peninggalan kejayaan teknologi komunikasi radio pada zaman penjajahan.  Menurut cerita Bang Ridwan, sekitar tahun 1920an kolonial belanda mulai membangun menara2 dan stasiun radio untuk saling berkomunikasi dengan  pasukan militer yang ada di daerah lain. Bahkan mereka membangun jaringan komunikasi radio untuk menghubungkan Indonesia dengan Belanda sehingga mereka dapat menerima perintah langsung dari Ratu Belanda.

Read More

  • 27th August
    2011
  • 27
Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan, tempat mereka kembali, Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.

Al An’am 108

Kenapa masih harus meributkan masalah toleransi agama? Kenapa kalian berkoar-koar bertikai tentang konsep pluralis dan toleransi? Yang bukan hanya menjebakmu dalam pertikaian sesama manusia, tetapi juga berjibaku menghajar sesama saudara seagama. Padahal Allah telah dengan jelas mewahyukan dalam kitab suci..